Dalam Upaya Mengangkakan Segalanya

Kita tidak dapat mengangkakan segala hal. Namun, layanan yang setiap hari saya pakai berhasil mengangkakan kebiasaan digital saya dengan sangat baik. Jika saya boleh menduga, Google mengetahui banyak hal tentang diri saya yang bahkan saya sendiri tidak tahu, apalagi orang lain.

Setiap harinya, aktivitas digital saya di layanan yang disediakan Google akan dikoleksi oleh Google. Mereka menyimpan data penggunaan, seperti apa saja yang pernah saya cari, video mana saja yang pernah saya tonton, bahkan sampai ke hal terkecil seperti berapa detik saya benar-benar memerhatikan suatu konten. 

Data penggunaan ini kemudian dianalisis untuk memperoleh informasi tentang hal-hal yang saya sukai, suatu pola atau kebiasaan, dan pada akhirnya dapat dimanfaatkan untuk menargetkan iklan yang cocok kepada saya. Agensi pemasaran membayar uang yang banyak untuk layanan iklan semacam ini. Padahal, seandainya saya memiliki tenaga pengolah data yang sama, saya dapat mempergunakan data tersebut menjadi bahan evaluasi diri. 

Quantified-Self

Ada sebuah konsep bernama “quantified-self” yang mana inti dari konsep ini adalah kepribadian yang dikuantifikasi (seperti kebiasaan, makan/minum, pengeluaran, jadwal, dll.) sehingga bisa memberikan kita masukkan akan apa yang dapat diperbaiki.

Ternyata, secara tidak sengaja saya juga sudah mengangkakan beberapa hal. Seperti transaksi keuangan dan kalender, yakni mengangkakan kebutuhan harian dan aktivitas harian.

Firefly III

Saya sendiri sudah cukup lama mencatat aktivitas keuangan saya. Setiap transaksi kecil maupun besar selalu saya catat dalam sebuah sistem web lokal (Firefly III) yang terpasang di laptop saya. Namun, untuk berkebiasaan mencatat setiap transaksi, dibutuhkan keteguhan tekad dan strategi yang andal.

Pada mulanya, saya mewajibkan setiap transaksi untuk mencantumkan nota pembayaran. Memindai dan mengunggah nota pembayaran menjadi pekerjaan tambahan, ini menjauhkan saya dari kebiasaan rekam transaksi. Saya berujung menulis transaksi saya di sebuah buku saku dan menyimpannya ke sistem di kemudian hari.

Di kemudian bulan saya menghabiskan dua minggu untuk menyalin semua transaksi itu. Saya kemudian berhenti mencatat transaksi untuk beberapa saat. Hingga akhirnya, saya melepaskan tuntutan untuk menyertakan nota transaksi. Sejak saat itu, menyimpan transaksi keuangan tidak terasa seperti beban, dan perlahan menjadi kebiasaan.

Karenanya, saya bisa melihat betapa banyaknya uang yang sudah dihamburkan dalam suatu masa. Semakin sering saya mencatat, saya menjadi semakin menghargai setiap rupiah yang ada. Pernah dalam suatu hari saya merasa sebal karena pembulatan tagihan dari Rp8.700 ke Rp9.000.

Kalender

Selain kebiasaan mencatat transaksi keuangan, akhir tahun lalu saya juga menyusun dan mengikuti suatu jadwal kegiatan dari Senin sampai Minggu.  Namun jadwal yang saya buat sangatlah kaku dan penuh asumsi bahwa segalanya akan berjalan lancar. Saya menyusunnya dengan aplikasi Excel.

Seperti yang Anda tebak, itu tidak berjalan baik. Hingga akhirnya di akhir bulan April lalu saya membaca buku “Make Time” (akan saya ulas nanti), yang memberikan saya inspirasi untuk mulai menggunakan kalender digital yang lebih modern. Seperti Google Calendar, yang aplikasinya sudah sejak lama terpasang di gawai saya.

Kalender digital lebih fleksibel dibanding menggunakan kertas bahkan aplikasi Excel sekalipun. Dan menjalankan jadwal rasanya sangat menyenangkan, saya tidak perlu repot-repot berpikir apa yang perlu dilakukan 2 jam ke depan. Walaupun, tidak selamanya saya bisa mengikuti jadwal tersebut.

Ada banyak alasan dan pembenaran mengapa saya tidak mengikuti jadwal. Mulai dari faktor kesehatan, orang lain yang terlambat, atau sekedar letih.

Saya memasang aplikasi ActivityWatch yang dapat memonitor jendela mana saja yang aktif di laptop saya dan aktivitas tersebut akan tersimpan. Rekaman aktivitas tersebut dapat saya bandingkan dengan jadwal yang seharusnya saya ikuti.

Orang lain yang terlambat tidak dapat kita kendalikan, namun dapat diantisipasi. Kesehatan dan faktor kelelahan boleh jadi disebabkan oleh jadwal yang tidak realistis dan tidak sehat.

Tidak semuanya bisa diangkakan

Banyak juga upaya-upaya lain yang pernah saya lakukan demi memperoleh suatu angka. Padahal, saya paham betul tidak semuanya dapat diangkakan.

Angka tidak akan mampu menggambarkan kompleksitas kehidupan. Seperti tes kepribadian Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), yang mengelompokkan kepribadian manusia menjadi 16 jenis. Padahal untuk mengerjakan tesnya, kita hanya mengisi kuesioner dalam skala seperti sangat sering sampai sangat jarang, yang dapat dikatakan sebagai angka dalam bentuk lain. Sudah beberapa kali saya mengerjakan tes MBTI, dan hasilnya tak jarang berbeda.

Upaya yang saya lakukan tidak selalu memberikan informasi yang tepat. Angka dan data harus diolah dengan baik untuk memberikan kita kesimpulan yang dapat dijadikan bahan evaluasi.

Akal Imitasi (AI) sangat mampu untuk mengolah data dan angka dalam skala besar. Saya menduga Agentic AI seperti OpenClaw memiliki kemampuan untuk mengolah data keuangan, kalender, dan ActivityWatch yang saya simpan menjadi beberapa poin kesimpulan.

Dalam upaya mengangkakan, bukan berarti hidup saya juga menjadi lebih terstruktur. Namun setidaknya, saya bisa memahami diri lebih jauh dan akan lebih sulit untuk berbohong pada diri sendiri.


Komentar