Opini tentang media sosial

Dewasa ini saya merasa jijik ketika membuka feed Instagram atau Facebook. Riwayat saya dengan media sosial bisa dikatakan cukup menyedihkan. Walaupun saya tidak memasang aplikasi TikTok, pada dasarnya semua media sosial sama. Terutama format video pendek yang ada di mana-mana dan membuat penggunanya kehilangan waktu.

Ya, waktu. Itu adalah harga yang harus saya bayar. Semakin lama kita menggunakannya, semakin banyak juga pendapatan yang mereka terima (ByteDance, Meta, Google, Snapchat). Entah itu melalui layanan iklan, verified tag, atau skema bisnis lainnya.

Saya tidak keberatan jika waktu yang saya habiskan menghasilkan hal-hal positif, atau setidaknya memberikan saya kesenangan yang membekas. Namun yang ada, saya sepenuhnya lupa, bahkan menyesal, bagaimana saya menghabiskan waktu saya di sana. 

Konten yang disediakan kualitasnya standar bahkan buruk. Dan wujudnya mudah diprediksi: semuanya serba singkat. Konten-konten ini memberi saya ilusi seolah saya telah mempelajari suatu hal baru. Padahal, kurang dari hitungan jam saya langsung lupa apa saja yang telah ditonton/dibaca.

Keberadaan konten buatan Kecerdasan Buatan (AI) juga memperkeruh beranda saya. Suaranya, nada bicaranya, klip yang digunakannya, semuanya seragam. Begitu pun gaya bahasanya, "bukan x, tapi y", "bukan p, bukan q, bukan r, tapi z", penggunaan kata ganti non-deskriptif seperti "khusus", "spesial", "ajaib" benar-benar memuakkan. Dead internet theory is real.

Berita gen-z dari homeless media yang beroperasi sepenuhnya online telah banyak membuang waktu saya untuk membaca berita yang tidak jelas kredibilitasnya. Mereka hanya membagikan informasi yang bersumber dari internet (singkatnya: repost doang).

Ekonomi Atensi

Tak ayal lagi, platform jejaring sosial dibangun atas dasar ekonomi atensi: informasi di dunia ini jumlahnya tak terbatas, kita perlu membayarnya dengan perhatian kita yang terbatas.

Korporasi media sosial memanfaatkan atensi kita yang terbatas untuk menghasilkan keuntungan melalui iklan. Semakin lama kita berada di media sosial, semakin banyak juga iklan yang bisa mereka tampilkan, dan pada gilirannya memberikan mereka penghasilan. Mereka memanfaatkannya dengan sangat baik, menjadikan media sosial sebagai tempat saling mencuri perhatian.

Media sosial sudah mereka rekayasa untuk mencuri perhatian kita sebanyak mungkin, baik untuk penonton pasif maupun pengunggah aktif. Sebagai pengguna pasif, saya sering disuguhi konten-konten sensasional dan memancing amarah karena jenis inilah yang secara psikologis lebih menarik perhatian. Terkadang saat saya mengunggah sesuatu, perhatian saya ditarik untuk mengikuti angka like unggahan dan merespons komentar-komentar para penonton/pembaca.

Tentang berita dan informasi

Pada hemat saya, informasi yang beredar sudah terlalu banyak dan tidak begitu penting.

Di media sosial, semua orang bisa membagikan informasi, tak peduli seberapa kredibel sumbernya. Kondisinya semakin buruk saat Meta meniadakan fact-checkers awal 2025 lalu. Meta gets rid of fact checkers and says it will reduce ‘censorship’ | CNN Business.

Berita yang terus beredar sebenarnya tidak begitu penting, berita di mana saya tidak berdaya untuk mengubah sesuatu. Contoh saja, Ketika Kapal Ever Given Kandas di Terusan Suez, apa yang bisa saya lakukan? Tidak ada. Toh, berita yang benar-benar penting pasti akan sampai ke kita, entah apa pun caranya.

Ini bukan berarti sikap apatis diperbolehkan. Masyarakat yang baik harus up-to-date dengan apa yang terjadi di lingkungannya. Setidaknya cukup sampai situ. Selebihnya, seperti gossip internasional, bisa diabaikan.

Jalan lain

Sebenarnya sudah beberapa bulan yang sejak saya menghapus aplikasi media sosial dari gawai saya. Tapi tetap saja, saya masih mudah mengaksesnya melalui web-browser. Sekarang, saya sudah mempersulit kata sandi akun media sosial saya, mengaktifkan 2FA, dan logout dari sana.Walau beberapa kali saya akan tetap menggunakannya untuk suatu kepentingan. 

Saya juga masih menggunakan WhatsApp untuk komunikasi dan menonton cerita beberapa kenalan saya. Begitu pun YouTube, tutorialnya berlimpah ruah di sana (dengan fitur shorts yang saya matikan).

Walaupun dewasa ini saya cukup jarang membaca berita, saya hanya membaca artikel berita dari media-media kredibel seperti Kompas, Tempo, CNN, dan semacamnya. Ini alternatif yang lebih baik dibanding "berita" media sosial.

Saat menunggu (entah orang lain, transportasi, atau apa pun itu), saya mulai memberanikan diri untuk membaca buku di tempat umum. Atau bahkan, saya membiarkan diri saya melamun. Tidak ada salahnya.

Orang bilang, media sosial adalah tempat berekspresi. Bagi saya, di sinilah tempat saya melakukannya. Lewat tulisan, mungkin juga beberapa foto. (*Meskipun tetap saja, saya perlu membagikannya ke media sosial untuk menjangkau pembaca. Ironis.)

Sudah sejak lama saya ingin menulis untuk laman pribadi, pernah mencobanya beberapa kali, lalu berhenti. Keluar dari media sosial memberikan saya kendali atas waktu yang saya miliki. Inilah saat yang tepat untuk melanjutkannya.

Komentar